(Novena ini dilakukan setiap hari 9 kali berturut-turut
pada jam-jam yang sama)
Ya Yesus, Engkau berkata:
"Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah
maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan
dibukakan bagimu". Dengan perantaraan Maria
Bunda-Mu tersuci aku memanggil Engkau,
aku mencari dan memohon kepada-Mu
untuk mendengarkan permohonanku ini.
(Sebutkan karunia yang anda butuhkan)
Ya Yesus, Engkau berkata:
"Apa saja yang kau minta kepada Bapa-Ku dengan nama-Ku,
Dia akan memberikannya kepadamu",
aku memohon dengan rendah hati dan penuh kepercayaan
dari Bapa Surgawi dalam nama-Mu tersuci,
untuk mengabulkan permohonanku ini.
(Sebutkan permohonan anda)
Ya Yesus, Engkau berkata:
"Langit dan bumi akan musnah,
tetapi Sabda-Ku tidak akan musnah,
dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci aku percaya
bahwa permohonanku akan dikabulkan.
(Sebutkan permohonan anda)
Yesusku, Tuhan jiwaku, Engkau berjanji
bahwa hati Kudus-Mu akan menjadi laut kerahiman
bagi orang-orang yang berharap pada-Mu,
aku sungguh percaya bahwa Engkau
akan mengabulkan apa yang aku minta,
walau itu memerlukakan mukjizat.
Pada siapa aku akan mengetuk kalau bukan pada Hati-Mu.
Terberkatilah yang berharap pada-Mu.
Ya Yesus, aku mempersembahkan kepada Hati-Mu
(penyakit ini, jiwa ini, permohonan ini)
Pandanglah dan buatlah apa yang hati-Mu kehendaki.
Ya Yesus, aku berharap pada-Mu dan percaya,
kepada-Mu aku mempersembahkan diriku,
didalam Engkau aku merasa aman.
(1 kali Bapa Kami; Salam Maria; Kemuliaan)
Hati Kudus Yesus, aku berharap pada-Mu.
(Ulangi 10 kali dengan penuh semangat)
Ya Yesus yang baik, Engkau berkata:
"Jika engku hendak menyenangkan Daku,
percayalah kepada-Ku.
Jika engku hendak lebih menyenangkan Daku,
berharaplah pada-Ku selalu".
Pada-Mu Tuhan, aku berharap, agar aku tidak binasa selamanya.
Amin...
Warna-warni pelepasan seragam putih abu-abu
Oleh : F. Darmianto
Kita sering mendengar pepatah Kemarau setahun basah karena hujan satu jam (benar nggak ya pepatahnya).
Ini juga terjadi ketika kita akan menyelesaikan studi kita. Setelah 3 tahun menimba ilmu tapi kita bisa gagal dalam tempo waktu 3 hari.
Sabtu (14/6) yang lalu, secara serentak ditanah air diumumkan hasil Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pengumuman yang dilakukan dengan berbagai cara lewat media cetak, media elektronik maupun secara langsung dengan membagikan amplop kelulusan kepada siswa yang bersangkutan.
Tawa kegirangan dan tangis kekecewaan selalu menghiasi detik-detik meneganggkan ini. Bagi yang lulus kegembiraanlah yang dirasa, tapi tidak bagi yang kurang beruntung yakni yang tidak lulus.
Berbagai macam cara bagi yang lulus untuk mengungkapkan kegembiraan mereka. Tanpa disadari ada yang lupa akan diri misalnya dengan ugal-ugalan dijalan raya, padahal ini sangat beresiko. Corat-coret bukan lagi hal yang aneh bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun.
Tetapi ada pula dengan mengadakan bakti amal. Mereka berkumpul untuk menggalang dana dan mengumpulkan pakaian bekas mereka untuk kemudian diberikan kepada teman-teman yang kurang mampu melalui yayasan-yayasan sosial yang ada disekitar mereka.
Kebrutalan juga ikut-ikutan beraksi disini. Memang ketika kekecewaan terasa, terkadang emosi kita tak terkontrol dengan baik. Ini yang memancing seseorang untuk berbuat brutal. Tidak hanya emosi, minuman keras juga menjadi pemicu utama tindakan brutal yang dilakukan oleh siswa.
Pengalaman saya ketika masih duduk dibangku SMA dan saat akan menerima hasil Ujian Nasional seperti ini, banyak teman-teman yang pesta minuman keras dulu sebelum pengumuman hasil Ujian dilakukan. Yang saya lihat latar belakang tindakan siswa seperti ini tidak jauh adalah keluarga. Kebanyakan kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua sebagai lingkungan terdekat.
Realita seperti ini akan terus terjadi dan bisa menjadi tradisi yang akan melekat jika tidak dicegah dari sekarang. Peran orang tua dan sekolah sebagai lingkungan yang paling dekat diharapkan mampu merubah semua ini.
Kita sering mendengar pepatah Kemarau setahun basah karena hujan satu jam (benar nggak ya pepatahnya).
Ini juga terjadi ketika kita akan menyelesaikan studi kita. Setelah 3 tahun menimba ilmu tapi kita bisa gagal dalam tempo waktu 3 hari.
Sabtu (14/6) yang lalu, secara serentak ditanah air diumumkan hasil Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pengumuman yang dilakukan dengan berbagai cara lewat media cetak, media elektronik maupun secara langsung dengan membagikan amplop kelulusan kepada siswa yang bersangkutan.
Tawa kegirangan dan tangis kekecewaan selalu menghiasi detik-detik meneganggkan ini. Bagi yang lulus kegembiraanlah yang dirasa, tapi tidak bagi yang kurang beruntung yakni yang tidak lulus.
Berbagai macam cara bagi yang lulus untuk mengungkapkan kegembiraan mereka. Tanpa disadari ada yang lupa akan diri misalnya dengan ugal-ugalan dijalan raya, padahal ini sangat beresiko. Corat-coret bukan lagi hal yang aneh bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun.
Tetapi ada pula dengan mengadakan bakti amal. Mereka berkumpul untuk menggalang dana dan mengumpulkan pakaian bekas mereka untuk kemudian diberikan kepada teman-teman yang kurang mampu melalui yayasan-yayasan sosial yang ada disekitar mereka.
Kebrutalan juga ikut-ikutan beraksi disini. Memang ketika kekecewaan terasa, terkadang emosi kita tak terkontrol dengan baik. Ini yang memancing seseorang untuk berbuat brutal. Tidak hanya emosi, minuman keras juga menjadi pemicu utama tindakan brutal yang dilakukan oleh siswa.
Pengalaman saya ketika masih duduk dibangku SMA dan saat akan menerima hasil Ujian Nasional seperti ini, banyak teman-teman yang pesta minuman keras dulu sebelum pengumuman hasil Ujian dilakukan. Yang saya lihat latar belakang tindakan siswa seperti ini tidak jauh adalah keluarga. Kebanyakan kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua sebagai lingkungan terdekat.
Realita seperti ini akan terus terjadi dan bisa menjadi tradisi yang akan melekat jika tidak dicegah dari sekarang. Peran orang tua dan sekolah sebagai lingkungan yang paling dekat diharapkan mampu merubah semua ini.
Keto Bakar
Oleh : F. Darmianto
Keto, burung yang dipercayai oleh orang Dayak adalah saudara kandung manusia.
Menurut kisahnya seorang manusia dari negeri kayangan turun ke bumi dan menikah dengan iblis kemudian melahirkan anak dalam wujud burung Keto ini. Setelah itu manusia ini menikah lagi dengan Talino atau manusia dibumi dan melahirkan anak dalam bentuk yang benar yaitu manusia.
Biasanya kicauan burung Keto ini selalu dikaitkan dengan pertanda-pertanda, baik itu pertanda baik maupun pertanda buruk.
Misalnya ketika kita akan melakukan suatu perjalanan pada suatu tempat, saat kita akan melangkahkan kaki kita dimuka pintu rumah dan kita mendengar kicauan burung Keto disebelah kanan kita itu pertanda bahwa misi dan tujuan kita akan berbuah baik.
Begitu sebaliknya, ketika burung ini berkicau disebelah kiri kita itu pertanda bahwa dalam misi kita akan mengalami suatu tantangan, halangan dan rintangan bahkan musibah besar.
Tapi kita masih bisa melanjutkan perjalanan kita dengan melakukan tolak bala yakni meludah ke arah suara kicauan burung ini.
Burung ini selalu memberikan pertanda dengan kicauannya jika ada suatu musibah atau malapetaka yang akan menimpa manusia orang Dayak khususnya.
Kicauannya yang khas dan selalu ada sesuai dengan namanya, keto...keto... Sampai saat ini orang Dayak masih mempercayaai hal tersebut. Dapat dilihat ketika burung Keto berbicara atau berkicau orang Dayak tidak pernah mengabaikannya karena burung ini adalah sosok seorang saudara tertua.
Keto, burung yang dipercayai oleh orang Dayak adalah saudara kandung manusia.
Menurut kisahnya seorang manusia dari negeri kayangan turun ke bumi dan menikah dengan iblis kemudian melahirkan anak dalam wujud burung Keto ini. Setelah itu manusia ini menikah lagi dengan Talino atau manusia dibumi dan melahirkan anak dalam bentuk yang benar yaitu manusia.
Biasanya kicauan burung Keto ini selalu dikaitkan dengan pertanda-pertanda, baik itu pertanda baik maupun pertanda buruk.
Misalnya ketika kita akan melakukan suatu perjalanan pada suatu tempat, saat kita akan melangkahkan kaki kita dimuka pintu rumah dan kita mendengar kicauan burung Keto disebelah kanan kita itu pertanda bahwa misi dan tujuan kita akan berbuah baik.
Begitu sebaliknya, ketika burung ini berkicau disebelah kiri kita itu pertanda bahwa dalam misi kita akan mengalami suatu tantangan, halangan dan rintangan bahkan musibah besar.
Tapi kita masih bisa melanjutkan perjalanan kita dengan melakukan tolak bala yakni meludah ke arah suara kicauan burung ini.
Burung ini selalu memberikan pertanda dengan kicauannya jika ada suatu musibah atau malapetaka yang akan menimpa manusia orang Dayak khususnya.
Kicauannya yang khas dan selalu ada sesuai dengan namanya, keto...keto... Sampai saat ini orang Dayak masih mempercayaai hal tersebut. Dapat dilihat ketika burung Keto berbicara atau berkicau orang Dayak tidak pernah mengabaikannya karena burung ini adalah sosok seorang saudara tertua.
Menunjang motivasi tim
SOCCER Sarana transportasi yang nyaman dan berkualitas sangat menunjang tim-tim peserta Euro 2008 selama latihan atau melakoni pertandingan resmi.Maka itu, Hyundai sebagai Official Automotive Partner of Euro 2008, sangat memperhatikan faktor kenyamanan dalam bus tim peserta. Meski tak menyebutkan secara detail tahun pembuatan, jenis dan spesifikasi mesin yang digunakan, Hyundai menjamin tim-tim peserta akan merasa nyaman berada dalam bus tersebut.
"Didalam bus nanti para pemain akan dapat beristirahat dengan kondisi yang tenang. Ini merupakan salah satu wujud kami untuk mensukseskan Euro 2008," sebut Chae-Hoon Park, Manajer Umum Promosi Hyundai Motor Company.
Park yang didampingi Martin Kaller saat memperkenalkan desain bus para peserta (22/5), menyebutkan tidak ada perbedaan fasilitas di bus-bus tersebut. Hal ini untuk menghilangkan kesan pilih kasih atau memihak.
Pembedanya terletak pada warna bus yang disesuaikan dengan warna utama kostum tim yang bersangkutan. Misalnya untuk Swedia, warna bus adalah kuning sesuai warna utma kostum.
Bus tim peserta nanti akan tampak lebih spesial karena terdapat slogan yang dipilih berdasarkan poling suporter masing-masing tim melalui survei via internet. Ini merupakan inovasi jitu dan unik untuk menyemangati para pemain. Harapannya, setelah membaca slogan yang terpampang pada badan bus, para pemain mendapat tambahan motivasi.
Pemilihan slogan memang sengaja dilombakan. Para suporter diminta untuk memilih salah satu dari tiga pesan berisi slogan dari 16 negara. Slogan yang dipilih kemudian berhak dituliskan dibadan bus tim.
Bisa dibilang ini adalah tradisi yang diupayakan terus dilestarikan. Pada perhelatan Euro 2004, pada badan bus-bus peserta juga terpampang slogan penambah semangat tim. Seperti juga Piala Dunia 2006.
Disisi lain, meski slogan-slogan tiap tim telah terpilih, namun baru dipublikasikan secara resmi bertepatan dengan peluncuran bus-bus peserta pada 28 Mei. Slogan yang dipasang dibadan bus nanti ditulis dengan bahasa dan huruf masing-masing negara yang bersangkutan. Misalnya slogan tim Itali ditulis dengan bahasa Itali, slogan tim Jerman ditulis dengan bahasa Jerman. Hal itu tentu saja dimaksudkan agar masing-masing pemain lebih paham akan slogan timnya.(edy)
Dengarkan Rintihan Kami....
Oleh : F. Darmianto
Sebut saja namanya Asef. Dia mahasiswa yang berasal dari salah satu kabupaten di Kalimanatan. Dia kuliah di Universitas ternama di kota Bandung berkat beasiswa dari pemkabnya.
Hidup dirantau bersama 30 teman yang sama-sama dikirim oleh pemkab untuk menuntut ilmu dengan harapan lulus dengan ijazah sarjana dan mampu kembali kedaerah asal dan membangun disana. Asef ini merupakan persemaian Sumber Daya Manusia.
Asef kuliah layaknya seorang mahasiswa. Sungguh enaknya nasib asef dan teman-temannya bisa ke perguruan tinggi tanpa harus membayar biaya kuliah sepeserpun bahkan biaya hidup juga ditanggung dengan jaminan mereka harus bisa lulus dalam jangka waktu 4 tahun, jikalau lebih dari target yang disetujui Asef dan teman-temannya harus membiayai sisa biaya kuliahnya sendiri.
Tinggal disebuah rumah kontrakan yang cukup menampung 30 orang, itu kata Pemkab mereka ketika mereka belum diberangkatkan. Tapi kenyataannya, rumah yang dihuni saat ini jauh dari kelayakan untuk persemaian calon-calon guru ini. Kamar dengan ukuran 3mx3.5m harus ditempati 3-4 orang. Ya memang menyedihkan. Terlihat ketika mau belajar, yang namanya belajar ketenanganlah yang diperlukan. Ketika ketangan itu dicari tapi tak dapat juga. Karena keterbatasan ruang rumah yang disediakan oleh pemkab mereka.
Ruang yang terbatas, tapi masih adala lagi. Ini paling menyedihkan bagi Asef, ketika musim hujan tiba asef sibuk berurusan dengan genangan air yang masuk kedalam kamarnya lewat atap yang bocor. Lantai rumah jadi lembah, kalau saya lihat rumah yang ditempati Asef dan teman-temannya jauh dari yang namanya bersih meskipun mereka sudah membersihkan tetap saja rumah itu kelihatan kotor dan menjijikkan.
Fasilitas juga tidak memadai, Asef yang mengambil jurusan Teknik Arsitektur harus pasrah dengan nasib. Padahal untuk tugas-tugas kuliah Asef membutuhkan meja gambar dan komputer. Apa daya kuliah saja dibiayai, orang tua juga hidup pas-pasan. Lagi-lagi sungguh menyedihkan, padahal untuk bisa berhasil dalam studi fasilitas adalah hal yang bisa dikatakan nomor satu, tapi mungkin bagi pemkab mereka itu nomor 9 atau mungkin yang terakhir
Malangnya nasibmu Sef, sampai kapan terus begini?
Sebut saja namanya Asef. Dia mahasiswa yang berasal dari salah satu kabupaten di Kalimanatan. Dia kuliah di Universitas ternama di kota Bandung berkat beasiswa dari pemkabnya.
Hidup dirantau bersama 30 teman yang sama-sama dikirim oleh pemkab untuk menuntut ilmu dengan harapan lulus dengan ijazah sarjana dan mampu kembali kedaerah asal dan membangun disana. Asef ini merupakan persemaian Sumber Daya Manusia.
Asef kuliah layaknya seorang mahasiswa. Sungguh enaknya nasib asef dan teman-temannya bisa ke perguruan tinggi tanpa harus membayar biaya kuliah sepeserpun bahkan biaya hidup juga ditanggung dengan jaminan mereka harus bisa lulus dalam jangka waktu 4 tahun, jikalau lebih dari target yang disetujui Asef dan teman-temannya harus membiayai sisa biaya kuliahnya sendiri.
Tinggal disebuah rumah kontrakan yang cukup menampung 30 orang, itu kata Pemkab mereka ketika mereka belum diberangkatkan. Tapi kenyataannya, rumah yang dihuni saat ini jauh dari kelayakan untuk persemaian calon-calon guru ini. Kamar dengan ukuran 3mx3.5m harus ditempati 3-4 orang. Ya memang menyedihkan. Terlihat ketika mau belajar, yang namanya belajar ketenanganlah yang diperlukan. Ketika ketangan itu dicari tapi tak dapat juga. Karena keterbatasan ruang rumah yang disediakan oleh pemkab mereka.
Ruang yang terbatas, tapi masih adala lagi. Ini paling menyedihkan bagi Asef, ketika musim hujan tiba asef sibuk berurusan dengan genangan air yang masuk kedalam kamarnya lewat atap yang bocor. Lantai rumah jadi lembah, kalau saya lihat rumah yang ditempati Asef dan teman-temannya jauh dari yang namanya bersih meskipun mereka sudah membersihkan tetap saja rumah itu kelihatan kotor dan menjijikkan.
Fasilitas juga tidak memadai, Asef yang mengambil jurusan Teknik Arsitektur harus pasrah dengan nasib. Padahal untuk tugas-tugas kuliah Asef membutuhkan meja gambar dan komputer. Apa daya kuliah saja dibiayai, orang tua juga hidup pas-pasan. Lagi-lagi sungguh menyedihkan, padahal untuk bisa berhasil dalam studi fasilitas adalah hal yang bisa dikatakan nomor satu, tapi mungkin bagi pemkab mereka itu nomor 9 atau mungkin yang terakhir
Malangnya nasibmu Sef, sampai kapan terus begini?
Tanda Tanya yang Terabaikan

Oleh : F. Darmianto
Sekedar mengisi waktu libur hari (selasa/20/05), Kamang mengadakan satu event untuk melepas lelah dari kuliah dan refreshing karena sebentar lagi menghadapi UAS yang sudah diambang pintu.
Tujuan kita adalah tempat wisata Gunung Tangkuban Parahu. Perjalanan dimulai pukul 7.30 yang dibuka dengan doa. Dengan menyewa sebuah angkot L300 semua anggota Kamang yang berjumlah 20 orang berangkat. Kurang lebih 1 jam kita tiba di pintu gerbang tempat wisata lintas hutan Jaya Giri. Trek yang dipilih memang beda tapi lazim dilakukan oleh orang lain. Kita sengaja tidak langsung melewati pintu gerbang Gunung Tangkuban Parahu. Dari Jaya Giri ke tangkuban parahu ± 1,5 jam berjalan kaki jika tanpa hambatan dengan mendaki gunung.
Kita mulai perjalanan dengan photo bareng didepan pintu gerbang, ya sebagai kenang-kenangan yang mungkin suata saat bisa menjadi cerita untuk anak cucu kita. Dalam perjalanan kita disuguhi dengan pemandangan hutan vinus yang rimbun dan sejuk. Dalam perjalan sesekali kita istirahat, karena trek lumayan berat. Dalam perjalanan berkali-kali juga kita berpapasan dengan pengunjung yang juga ikut mendaki.
Sekita pukul 11 kita istirahat ditengah hutan, kita makan siang dengan bekal yang dibawa dari kostan. Sungguh nikmatnya makan dengan seadanya dan bersama-sama mengingatkan kita ketika di Kalbar. Jarang-jarang kita bisa makan seperti ini, ini memang moment yang tak bisa dilupakan, hidup dikota metropolitan ternyata masih bisa makan dengan santai ditengah huta. Semua penat letih di kampus hilang sejenak disini tugas yang menumpuk dikostan dilupakan.
Karena ada kendala, menurut informasi yang kita dapat mengatakan di Gunung Tangkuban Parahu sedang ada kunjungan Wapres Jusuf Kalla. Maka kita tidak bisa masuk sampai rombongan kepresidenan meninggalkan tempat tersebut. Hampir jam 1 kita sudah bisa melanjutkan perjalanan. Dari jarak ± 1KM dengan kawah Gunung Tangkuban Parahu sudah tercium aroma kurang enak yang bisa menghilangkan selera makan. Aroma itu datang dari belerang yang ada dikawah Gunung Tangkuban Parahu.
Dan akhirnya kita tiba juga di objek wisata Gunung Tangkuban Parahu, yang juga merupakan ikon Jabar. Sungguh luar biasa, yang menabjukkan pengunjung yang berjubel baik domestik maupun mancanegara ada disini. Tapi sayang kita disini Cuma punya waktu 2,5 jam karena kita harus kembali deng menyusuri jalan yang kita lewati tadi.
Dari perjalan wisata ini, kita merasakan suatu yang sangat aneh. Jika di bandingkan antara Jabar dengan Kalbar tidak jauh berbeda. Dari segi teknologi dan fashion Jabar memang lebih maju. Tapi dari sisi wisata, tempat wisata Kalbar jauh lebih menarik dibanding Jabar
Lihat saja Gunung Tangkuban Parahu, apa yang ada disana? Yang dilihat disana Cuma sebuah kawah besar yang tidak ada apa-apanya, panas dan gersang. Tapi pengunjung begitu antusias untuk nangkring ditepi kawah gunung itu.
Kita kembali melihat ke kampung halaman, sungguh sangat menyedihkan jika kita lihat tempat wisata ditempat kita, disana ada Taman Pantai Pasir Panjang Indah di Singkawang, ada Bukit Kelam di Sintang, Gunung Pandareng di Bengkayang, Gunung Seha’ di Pahuman yang sekarang dihiasi warung remang-remang dengan gadis-gadis malam yang berkeliaran disana dan banyak lagi tempat wisata yang belum tersentuh.
Siapa yang salah dengan penomena yang terjadi ditempat kita? Mungkinkah ini kesalah dari instansi pemerintahan? Atau dari pihak pengelola? Siapa yang bisa memecahkan bencana ini? Kalau bukan kita siapa lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)